Aveneu Park, Starling, Australia

ABSTRAK karakter. BAB1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK

 

Latar belakang penelitian ini didasari dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Terjadinya dekadensi moral dikalangan anak bangsa, bahkan mulai memudarnya budaya- budaya lokal sebagai jati diri bangsa. Hal tersebut menyebabkan tugas civitas pendidikan sebagai lembaga pendidik semakin berat, dan tertantang untuk lebih kreatif serta inovatif guna mengembangkan, dan mendesain kurikulum pendidikan nasional yang terintegrasi dengan hidden curriculum.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kepahaman pendidik akan Hidden Curriculum  dan penerapannya terhadap peserta didik. Selanjutnya, untuk membuktikan lebih mendalam, fungsi dan peran pengembangan hidden curriculum dalam membentuk karakter siswa.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berisi tentang kutipan kutipan data   untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data dapat berasal dari naskah wawancara terdiri dari kepala sekolah dan guru, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen-dokumen lainnya Adapun,  sumber  sekunder  didapatkan  dengan melakukan studi dokumentasi, naskah dan arsip yang berkaitan dengan hidden curriculum.

Berdasar hasil analisis penelitian, agar dapat membentuk karakter peserta didik dengan baik, diperlukan suatu alat yaitu hidden curriculum yang berisikan sejumlah pengalaman-pengalaman  peserta  didik  yang  menjadi  faktor  pembentuk karakter.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Secara faktual dan realistik menunjukkan bahwa moralitas maupun karakter bangsa Indonesia saat ini telah runtuh. Semua itu telah mengundang berbagai macam musibah di negeri ini. Musibah tersebut merambah hingga ke ranah sosial keagamaan, hukum maupun politik. Musibah sosial agama dapat di amati dari hilangnya moral kemanusiaan. Kerusakan moral tidak hanya terjadi di kalangan birokrasi pemerintah saja namun telah menyebar meracuni masyarakat, misalnya penggelapan dana E-KTP dan jual beli ijazah bagi para pelamar kerja.

Kurikulum pada dasarnya adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Sedangkan menurut perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum yang dikembangkan di lingkungan pendidikan adalanh Kurikulum fomal dan hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yang saling melengkapai dan tidak dapat dipisahkan dalam prakteknya.

 Secara umum, kurikulum tersembunyi dapat dideskripsikan sebagai hasil sampingan dari pendidikan dalam latar sekolah atau luar sekolah, khususnya hasil yang dipelajari tetapi tidak secara tersurat dicantumkan sebagai tujuan. Adanya kurikuilum tersembunyi ini tidak direncanakan, tidak terprogram dan tidak dirancang, akan tetapi mempunyai pengaruh bagus, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap output dari proses belajar mengajar. Sebagai contoh yaitu hal-hal yang berhubungan dengan akhlaq dan moral, penampilan, kemampuan individual, dan apa saja yang melekat pada pribadi seorang guru. Kemudian menjadi rambu-rambu yang diterima oleh peserta didiknya untuk diteladani dan dijadikan sebagai bahan pembelajaran.

Idealnya sebuah kurikulum adalah proyek pembelajaran bangsa yang digagas oleh pemerintah dan kemudian dituangkan dalam bentuk kurikulum yang terstruktur, terdokumentasi,terprogram dan telah di sahkan secara resmi oleh pemerintah di tiap-tiap negara di dunia. Namun realitanya ada suatu kurikulum yang terletak di luar konteks pengajaran resmi dan pembelajarannya secara implisit. Hiden Curriculum atau kurikulum tersembunyi merupakan peraturan tak tulis seperti: konvensi, adat resam, nilai budaya sekolah seperti sopan santun, menjaga kebersihan, dan jujur. Berbagai aspek dari belajar berkonstribusi terhadap keberhasilan kurikulum tersembunyi seperti: praktek, prosedur, aturan, hubungan, dan struktur sekolah. Beberapa sumber spesifik sekolah dapat menguatkan elemen penting dari kurikulum tersembunyi. Sumber-sumber ini diantaranya: struktur sosial dari ruang kelas, latihan otoritas guru, aturan yang mengatur hubungan antara guru dan siswa, aktivitas belajar standar, penggunaan bahasa, buku teks, alat bantu audio-visual, berbagai perkakas, arsitektur, ukuran disiplin, daftar pelajaran, sistem pelacakan, dan prioritas kurikulum.

Senada dengan pemikiran Albert Bandura, yang dikutip oleh Laila (2015)  proses transfer keilmuan atau pendidikan, tak lepas dari norma-norma moral yang berlaku di masyarakat hingga nilai-nilai dari norma tersebut diejawantahkan dalam prilaku siswa sehari-hari. Dalam hal ini pengajaran keilmuan yang yang diselai pendidikan moral, termasuk kedalam kurikulum tersembunyi. Pembelajaran ini terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sosial. Proses tahapan-tahapan dalam pembelajaran social kognitif meliputi: Tahap perhatian (attentional phase), Tahap penyimpanan dalam ingatan (retention phase), Tahap reproduksi (reproduction phase) dan tahap motivasi (motivation phase). Teori pembelajaran sosial ini menekankan kepada proses bagaimana anak-anak belajar norma-norma kemasyarakatan. Jika pesan yang disampaikan bersifat positif, anak-anak menerimanya dengan baik dan pengaruh lainnya adalah sama positifnya, maka anak itu akan cenderung untuk membesar dengan nilai-nilai yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Hidden curriculum adalah salah satu upaya yang sering terabaikan dalam pembentukan karakter, seperti pengelolaan belajar mengajar, kegiatas ekstrakulikuler, penciptaan suasana belajar dan lingkungan yang berkarakter , pembiasaan dan pembudayaan nilai yang baik dalam mendukung keberhasilan dalam pendidikan karakter.(Mahfuzh, 2017). Melihat betapa pentingnya suatu kurikulum, bagi jantung pendidikan. Dalam penelitian ini, penulis bermaksud untuk menggali lebih dalam mengenai pentingnya kurikulum yang tersembunyi yang membagun kualitas bagi peserta didik. Sebab Hidden Curriculum dirasa sangat penting bagi peningkatan nilai-nilai yang membangun pribadi pelajar. Pada dasarnya konsep hidden curriculum terekspresikan dalam gagasan bahwa sebuah instansi pendidikan melakukan lebih dari sekedar berbagi pengetahuan seperti yang tercantum dalam kurikulum resmi, tetapi juga mengandung pengajaan yang relevan dengan kenyataan hidup.

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Pengertian Urgensi

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), urgensi bermakna keharusan mendesak atau hal sangat penting

 

2.2 Pengertian Hidden Curriculum

Hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi atau kurikulum terselubung, secara umum dapat dideskripsikan sebagai “hasil (sampingan) dari pendidikan  dalam  sekolah  atau  luar  sekolah,  khususnya  hasil  yang  dipelajari tetapi tidak secara tersurat dicantumkan sebagai tujuan”.

Beberapa definisi para ahli mengenai the hidden curriculum:

a.   Allan A. Glattron: hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk dipelajari, yang secara definitif digambarkan sebagai berbagai aspek   dari   sekolah   diluar   kurikulum,   yang   dipelajari,   namun   mampu

memberikan pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi, dan perilaku siswa.

b. Dede  Rosyada:  hidden  curriculum  secara  teoritik  sangat  rasional mempengaruhi siswa, baik menyangkut lingkungan sekolah, suasana kelas, pola interaksi, guru dengan siswa dalam kelas, bahkan pada kebijakan serta manajemen pengelolaan sekolah secara lebih luas dan perilaku dari semua komponen sekolah dalam hubungan interaksi vertikal dan horizontal mereka.

c.   Oemar Hamalik: hidden curriculum merupakan hasil desakan seolah, tugas, baca, buku yag memberikan efek yang tidak diinginkan begitu pula kebutuhan untuk mempengaruhi orang lain agar menyetujui sesuatu yang diharapkan. Melalui interaksi kelas dan testing guru-guru secara sadar dapat mengubah cita-cita pendidikan yang dimintakan. (Rohinah, 2012)

 

BAB III

METODE

3.1 Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berisi tentang kutipan kutipan data   untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data dapat berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen-dokumen lainnya.

Di sini terdapat dua macam sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder (Harnafisah, tt).Sumber  data primer  adalah data yang diperoleh dari dokumen  institusi dan   hasil wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan Urgensi Hidden Curriculum. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data tambahan atau pendukung yang digunakan peneliti untuk membantu dalam penelitian seperti pengamatan langsung dan dokumen lainnya. Penelitian, di samping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Peneliti menggunakan beberap teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Sumber data pada penelitian ini berupa: kata-kata dan tindakan, sumber tertulis, dan foto. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipasi pasif, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan data: kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas. Tahap-tahap penelitian adalah tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data.

Penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan (Library Reseach). Oleh karena itu, keseluruhan data diambil dari buku atau karya tulis yang berkaitan dengan pembahasan “Character Education Based Hidden Curriculum”.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Apabila dikaji secara mendalam, sebenarnya etika peserta didik pada zaman ini telah berubah menjadi degradasi moral yang begitu memprihatinkan. Berbagai nilai adat dan budaya yang telah di wariskan oleh guru sebagaimana yang diajarkan, kian lama semakin memudar. Peserta didik lebih  cendrung berkarakter angkuh,  mementingkan  diri  sendiri, berat tangan, , tidak percaya diri, tidak sopan santun, melawan perkataan orang tua, semua hal tersebut merupakan bagian karakter yang telah mengalami perubahan pada zaman ini.

Kemajuan berbagai teknologi yang berimbas pada karakter peserta didik, membuat pendidik bekerja keras lebih ekstra dalam mengantispasi karakter yang tidak baik. Telah banya media massa yang memberitakan bahwa aplikasi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, game online, dan internet menjadi musuh utama yang bisa merusak karakter bangsa. Contoh akibat dari game online yaitu seorang anak rela mncuri uang orang tuanya agar dapat bermain Game online. Ternyata hal tersebut dapat menimbulkan dampak kecanduan.   Bukan   hanya berpengaruh pada karakter bangsa melainkan dapat merusak kesehatan. Bisa diamati bahwa seseorang yang kecanduan dalam game online membuat dirinya lupa akan segalanya, mulai dari makan bahkan hingga istirahat.

Kemana arah tujuan bangsa ini, jika generasi mudanya sudah tidak  memiliki  nilai-nilai  moral dan karakter  yang  sesuai  dengan  bangsa  Indonesia. Masa depan bangsa Indonesia bisa hancur dalam degradasi moral, kecerdasan generasi bangsa yang dicita-citakan dalam komitmen nasional semata-mata hanya menjadi khayalan belaka.

Agar dapat berfungsi dengan baik, dalam membentuk karakter peserta didik, diperlukan suatu alat yaitu hidden curriculum yang berisikan sejumlah pengalaman-pengalaman  peserta  didik  yang  menjadi  faktor  pembentuk karakter.  

Setelah dilakukan penelitian mengenai Urgensi Hidden Curriculum, ternyata tidak semua pendidik paham akan arti Hidden Curriculum dan mengimplementasikannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.1 Presentase pendidik yang paham dan mengimplementasikan Hidden Curriculum

Dari diagram diatas, dapat deketahui bahwa tidaklah semua pendidik paham akan Hidden Curriculum. Berdasarkan hasil wawancara penulis terhadap beberapa pendidik, mayoritas dari mereka yang notabenenya berumur sekitar 21-45 tahun, 58% mengerti dan mampu mengimplementasikan kurikulum tersembunyi ini.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada sekitar 17% tidak mengerti dan tidak mengimplementasikan Kurikulum tersembunyi, mereka itu yang berumur lima puluh tahun keatas. Cara belajarnya pun masih sangat monoto. Selanjutnya terdapat 17% pendidik yang tidak mengerti apa kurikulum tersembunyi itu, namun secara tidak langsung telah dilakukannya. Mereka ini rata-rata adalah siswa lulusan sekolah menengah atas (SMA) yang diminta membantu mengajar di pedesaan tempat mereka tinggal, dikarenakan masih minimnya tenaga pendidik yang mumpuni. Usia mereka berkisar antara 19-21 tahun.

Sekitar 8% pendidik berusia 25 tahun, mengerti akan Hidden Curriculum, namun tidak mengimplementasikannya sebab mereka menganggap pendidikan otak lebih penting dari pendidikan karakter. Beberapa faktor  yang  dapat mempengaruhi keberhasilan hidden curriculum yaitu :

1.      Peran Guru

Tugas  guru sebagai pendidik mempunyai makna ganda,  yaitu guru harus dapat menjadikan siswanya pintara, namun melihat peran dan fungsi guru sesungguhnya tugas guru tidak hanya sebatas mengajar di depan  kelas  atau  mendampingi  siswa  saat  belajar,  tetapi  lebih  kepada merubah dan membantu siswa dalam pembentukan karakter.

Berdasarkan pendapat Mulyana (dalam Lubis, 2015), menjelaskan bahwa guru yang baik hati adalah guru yang hatinya baik. Guru yang tidak pemarah dan tidak menakutkan, serta pemaaf. Di era ini, bukan lagi era di tahun 60-an dimana guru harus di takuti peserta didik dan guru harus kalihatan menyeramkan dimata peserta didiknya.

Predikat guru baik hati pada dasarnya memang tidak ada pada kamus, tetapi predikat ini memang sebagai hidden curriculum yang tidak  diajarkan atau dituliskan dalam kurikulum formal, tetapi predikat ini memang diciptakan peserta didik dan diberikan oleh guru yang sabar, mudah bergaul, pintar, tidak sombong.

2.      Peran Keluarga

Keberhasilan pendidikan di Indonesia mengenai nilai-nilai akhlak yang bergantung kepada pendidikan, ada pada keluarga yang menjadi ruang lingkup pendidikan in-formal. Pada taraf keluarga dan sekolah dalam usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan akan peserta didikk dan membantu perkembangan karakter mereka.

Seto Mulyadi (dalam Lubis, 2015) menjelaskan bahwa pendidikan yang sejati itu ada dalam keluarga karena pendidikan dalam keluarga pada dasarnya mengarah pada aspek individual. Menurut pendapat Lickona (2013:42), yang mengungkapkan bahwa “keluarga merupakan pendidikan moral yang utama bagi anak-anak”.

Orang tua adalah guru moral pertama anak-anak, pemberi pengaruh yang paling dapat bertahan lama. Hubungan orang tua dengan anak juga mengandung signifikansi emosiaonal khusus, yang dapat menyebabkan anak-anak merasa dicintai.

3.    Peran Masyarakat

Masyarakat ikut andil dalam membangun karakter siswa. Penting bagi sekolah yang sedang melaksanakan hidden curriculum untuk melibatkan tidak hanya orang tua saja, namun keterlibatan masyarakat secara luas sangat membantu. Keterlibatan tersebut membantu  mengidentifikasi  dan  mendapatkan  dukungan  untuk  nilai-nilai yang diajarkan. Keterlibatan tersebut membuka jalan bagi terbentuknya keahlian etis yang berharga di dalam masyarakat dan keterlibatan tersebut menginformasikan kepada public dan menciptakan publisitas positif atas berbagai  upaya   yang  dilakukan  sekolah  dalam  bidang  pengembangan karakter (Lickona,  2013:536)

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Hakim menjelaskan bahwa pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku peserta didik.

Termasuk lingkungan   yang ada pada tatanan masyarakat. Seperti masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, memiliki karakter   yang   berbeda   dengan   masyarakat   yang   tinggal   di   daerah pantai. Umumnya masyarakat yang tinggal di daerah pantai memiliki watak yang keras. Faktor tersebut disebabkan karena kondisi masyarakat yang tinggal di daerah pesisiran pantai memiliki suhu yang panas, angin serta suara ombak yang keras, sehingga membuat masyarakatnya memiliki watak yang keras. Lain halnya dengan masyarakat pegunungan yang memiliki suhu yang sejuk dan dingin sehingga membuatnya masyarakatnya memiliki emosi yang lembut.

4.    Peran Sekolah

Suatu karakter yang ingin dicapai sekolah tidak harus dengan menyusun kurikulum tertulis atau kurikulum formal. Pendidikan karakter dapat dimasukkan ke dalam pokok-pokok bahasan. Memberikan nasehat, wejangan, arahan, petuah, petunjuk untuk berbuat kebaikan. Perkataan   guru,   perbuatan   guru,   perilaku   guru,   ketaatan   guru   dalam beribadah, kedekatan guru yang ramah merupakan teladan bagi peserta didik yang  merupakan   bagian   dari   hidden  curriculum.  

Membangun   budaya perilaku sekolah  dituangkan  dalam  tata tertib  sekolah, peraturan  sekolah, seperti cara berpakaian yang sopan santun, dilarang merokok, tidak berkata kasar   dan   kotor,   disiplin   waktu,   menjaga   ketertiban   dan   kebersihan, keindahan dan keamanan sekolah. Semua itu adalah cara membangu karakter pendidikan peserta didik melalui lingkungan sekolah (Amin, 2011:49-50). Dengan demikian, keberhasilan implementasi hidden curriculum di sekolah sangat di tentukan iklim dan budaya yang ada di sekolah.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sari (2009:926) di Turki menjelaskan bahwa Sebagian besar penelitian yang dikutipnya menunjukkan bahwa budaya sekolah adalah faktor penting dalam kedua efektivitas sekolah pada umumnya dan mendapatkan proses nilai-nilai. Untuk menciptakan iklim sekolah yang nyaman dalam proses pembelajaran yang paling utama adalah peranan kepala sekolah dan guru dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan peserta didik.

 

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang yang telah dilakukan oleh penulis mengenai Urgensi Hidden Curriculum, dinyatakan bahwa tidak semua pendidik paham akan arti Hidden Curriculum dan mengimplementasikannya. Menurut hasil wawancara penulis terhadap beberapa pendidik, mayoritas dari mereka yang notabenenya berumur sekitar 21-45 tahun, 58% mengerti dan mampu mengimplementasikan Hidden Curriculum.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada sekitar 17% tidak mengerti dan tidak mengimplementasikan, serta terdapat juga 17% pendidik yang tidak mengerti apa kurikulum tersembunyi itu, namun secara tidak langsung telah dilakukannya. Sekitar 8% pendidik berusia 25 tahun, mengerti akan Hidden Curriculum, namun beberapa dari mereka tidak mengimplementasikannya. Jadi, berkembang atau tidaknya Hidden Curriculum dipengaruhi oleh peran guru, peran keluarga, peran masyarakat dan peran sekolahan.

 

 

 

 

 

 

x

Hi!
I'm Simon!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out